Singin’
November 9th, 2008 by ivy-skydiveMenyanyi bukan karena sedang bergembira
t a p i….
Menyanyi untuk bergembira
Mario Teguh the golden ways - MetroTV
Menyanyi bukan karena sedang bergembira
t a p i….
Menyanyi untuk bergembira
Mario Teguh the golden ways - MetroTV
Tiada mendung di atas sana,
namun tiada kuasa aku menahan,
air mata yang berkaca-kaca.
Ada degup di dada,
rasa haru tiada sirna,
ada rasa bahagia,
ada rasa bangga.
Di sana… di Istana Merdeka,
upacara Hari Kemerdekaan, setiap tahun ada,
tiada yang dapat membuatku merasa.
Baru 2001 ini bisa membuatku sangat merasa,
ada haru terasa,
ada gejolak di dada,
ada semangat di dada.
Adakah kau lihat di sana,
derap gagah perkasa,
dari para paskibraka.
Alunan lagu paduan suara,
dari tamu undangan dan anggota upacara,
terpancar rasa bahagia.
Mungkin pikiran mereka sedang melanglang buana,
ke-56 tahun lamanya,
Saat bendera itu berkibar kali pertama.
Pekik merdeka tetap bergema,
Hiduplah INDONESIA !!!
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
- My #1 poem -
Kamis, 17 Agustus 2001
10-12am, lagi di ruang tengah liat TV, siaran Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan ma Bapak (alm)
oleh:,,KriyataviKaniaIswari–Ivy,,
(21Juli’08)
Bapakku adalah seorang yang disiplin, jujur, sederhana, hardworker,
mandiri, dan aktif berorganisasi serta mempunyai jiwa seni, petualangan,
kerakyatan, dan kebangsaan. Beberapa sikap dan lingkungan yang dibentuk dalam
kehidupan Bapak, akhirnya membekas di kami putra putrinya.
1. Membentuk
Masa Depan
Selama ini kami semua putra-putri Bapak Yudhastawa dikondisikan untuk
bisa jadi orang yang mandiri. Kami sudah terlatih untuk tidak diantar jemput
(karena kondisi memang tidak memungkinkan untuk itu, hwahaha.., Eitss!!, tp klo
ada yg ngantar jemput siy, pasti ga nolak laah, kami kan tetep seorang opportunist,
waqaqaqa….. ;Opportunist = manja - Red). Sejak SD kami sudah berangkat ke
sekolah sendiri naik sepeda, dan kemudian berlanjut dengan naik bus kota sampai
masa pertengahan kuliah. Hal ini menimbulkan sedikit keberanian dan jiwa
petualangan kami (Halah!! Sok ngadventure dey ;p), sehingga pergi kemanapun
yang kami belum pernah datang ke lokasi itu sekalipun, itu bukan suatu masalah
yang besar. Bahkan saat ke negeri orang sekalipun (jd backpacker coz ga bisa
bayar paket tour yang mahal itu, hwahahha…. Obsesi ??).
Selanjutnya, dengan latar belakang cerita2 tentang Karir Bapak, pekerjaan-pekerjaan
Bapak, prestasi kerja Bapak dan mungkin sejak kami sekolah (saya lupa sejak SD
atau SMP), Bapak telah menerapkan pembagian tugas dan pemilikan tanggung jawab.
Siapa yang menyapu halaman rumah depan luar, halaman rumah dalam, menyapu, dan
mengepel lantai setiap sore. Saat itu saya merasa sempet komplen, yah orang mau
berangkat kegiatan extra kurikuler di sekolah atau mau main ma temen-temen,
jadi mundur berangkatnya…hiks… hiks… Tapi sekarang kami telah mendapatkan
jawabannya. Dari background-background ini tanpa kami sadaripun, kami terbentuk
menjadi seorang yang hardworker juga (ini komentar dari orang lain, heheheh…
Komentar dari org2 yang dah kami bayar utk ngomong itu..) dalam kami berempat
(termasuk almarhumah mbak Utik) menjalankan tugas pekerjaan di kantor kami
masing2. Mungkin hal ini juga diperkuat
karena gambaran-gambaran di karir Ibu juga.
Ada satu hal lagi yang telah
membentuk kami dari apa yang telah Bapak lakukan baik secara sengaja maupun tidak
sengaja. Dari lingkungan yang membentuk kami, secara tak kami sadari pun kami
suka berorganisasi, sejak sekolah, di kampus, dan sampai sekarang ini. Memang
jenis organisasi kami masing2 tidak sama karena saya lebih suka kepada
organisasi2 seni dan olahraga/bersifat adventure sedangkan Bapak dan Ibu;,
beliau-beliau leader di organisasinya yang berbentuk diskusi intelektualitas dan untuk
kepentingan kerakyatan, namun tetap adapula organisasi seninya. Belum lagi adik
kembarku, juga mba Utik (almarhumah) yang punya interest di organisasi yang
merupakan irisan dari organisasi-organisasi kami di atas. Meski berbeda-beda
namun tetep ada Redlinenya. Kami bersyukur, bahwa kami dibentuk oleh lingkungan
ini, yang membuat kami tahu lebih banyak hal yang mungkin tidak seluruhnya
diajarkan di pendidikan formal. Hal ini semakin melengkapi bekal kami dalam
dunia kerja, bersosialisasi, dan membuat hidup kami lebih berisi dan berwarna. (Bikin edup lebih
edup!!). Kembali lagi, hal ini juga diperkuat oleh Ibu kami yang aktif di
berbagai organisasi pula.
Banyak hal sudah yang telah Bapak persiapkan untuk membentuk kami menuju
masa depan kami. Terima kasih Bapakku.
2. Tangisan dan Jenuh antara
Aku dan Bapakku
Sebagai orang yang tough dan hardworker kami jelas tidak pernah melihat
Bapak mengeluh dan menangis apalagi sebagai seorang Pria, meski seberat apapun
juga masalah yang sedang dihadapinya. Tempaan Eyang Kakung ke Bapak dan
saudara-saudara sekandungnya memang cukup keras. Bapak dan saudara sekandungnya ga dibolehin ma
Eyang Kakung numpang Volvo Eyang meski
satu jalan menuju sekolah dan kantor Eyang Kakung karena itu mobil dinas (1949-1950),
bukan mobil keluarga. Dan dengan posisi Eyang itu, Bapak dan saudara-saudaranya
tetep harus jualan beras di pasar dan tetap dapat pembagian tugas ngepel dan
nyapu lantai rumah yang luasnya bikin kaki peyot.. Cape Deeehh… L Kemungkinan dari beberapa hal tersebut pula
yang akhirnya Bapak menjadi orang yang sangat mandiri, tough, dan hardworker;
membiayai sendiri biaya sekolah di SMA 3B Padmanaba Yogya dan kuliah di Fak
Geografi UGM karena sejak SMA Bapak telah menjadi yatim piatu.
Begitulah kira-kira gambaran toughnya Bapak dan jelas gak ada keluhan
apalagi tangisan. Namun, di foto, aku melihat diantara para penonton, diantara
Ibu, adik-adik, sepupu, dan almarhumah
mba Utik, Bapak menangis di depan pagar Istana Negara, Malioboro, Jogja di
suatu sore tanggal 18 Juli 2001. Bapak menangis karena melihat ada 1 peterjun
payung wanita “lompat” dari pesawat Cassa 212 yang landing dan tersangkut di
pohon mangga di halaman Istana Negara tersebut. Saat itu kami sedang melakukan
Demo Jump dalam acara Gebyar Dirgantara (Karya Bhakti TNI-AU). Tapi akhirnya Bapak
bisa bernapas lega dan mungkin saat itu berubah menjadi tangis bahagia karena
yang landing di pohon mangga itu ternyata bukan aku. Alhamdulillah ya Pak,
dengan lokasi landing dengan obstacle yang cukup susah, aku landing di “the”
Drop Zone dengan aman dan selamat, masih di aspalan halaman depan Istana
Negara, Voillaaa… Happy Landing !!
Selama ini kami semua tahu bahwa Bapak adalah orang yang disiplin. Tidak
hanya dalam hal keseharian, namun dalam menjalani diet nya pun Bapak sangat
disiplin pada dirinya sendiri. Kurang lebih selama 10 tahunan lebih Bapak menjalani
diet ketat demi kesembuhannya dalam Diabetes, Ginjal, dan Hepatitis C. Bahkan
pernah pula, sayur kelompok A sekian gram, sayur kelompok B sekian gram, nasi
ato kentang sekian gram pun pernah Beliau jalani demi kesembuhannya.
Namun setelah kurang lebih 10 tahun itu, tepatnya setelah Bapak pensiun di
usia 60 tahun dan Bapak menderita sakit yang lain lagi yaitu Jantung (Penyempitan
Pembuluh Darah) dan Stroke, tampaknya disini kami melihat perubahan pada
kedisiplinan diet Bapak. Bapak justru ingin mengkonsumsi makanan2 yang
berkolesterol tinggi dan mungkin bisa disebut “makanan-makanan enak” yang
lainya.
Saya sepertinya bisa melihat di kacamata Bapak kenapa berubah
kedisiplinannya dalam hal diet tersebut. Awal tahun 2003, saya mengalami
kecelakaan saat Demo Jump untuk acara ITB di Lembang; yang mengakibatkan amnesia
retrougat (amnesia ringan), jahitan di dagu kanan bawah (panjang 7cm, dalamnya
1 cm) dan retaknya rahang bawah. Karena
rahang retak tersebut, selanjutnya gigi saya harus di fixaxi (ngikut aja ma
bahasanya para spesialist Bedah Mulut mah, hehee). Seperti kawat gigi (behel),
namun mulut bener2 terkatup (berasa dibungkem, hehehehe…), di antara kawat gigi
atas dan kawat gigi bawah dikaitkan lagi dengan kawat, full selama 2 bulan, sehingga
paling sedih bila malam telah datang, karena kalo menguap, mulut tidak bisa
membuka, hahhahaha….. dan selama 2 bulan itu pula tidak bisa makan sama sekali
kecuali diisi oleh fruit juice , susu, ataupun bubur bayi encer. Selama 2 bulan
tersebut, banyak terlintas berbagai menu makanan yang ingin saya makan namun
tertahan, menunggu masa fixaxi 2 bulan selesai. Masa penantian akhirnya selesai
dan kawat dibuka. Namun rupanya kami
belum boleh langsung makan nasi. Harus pelan2 dan baru boleh makan bubur untuk
sementara waktu. Setelah masa bubur selesai, saya kemudian mulai hunting makanan
yang selama 2 bulan itu muncul dalam benak namun tidak bisa saya memakannya.
Berat badan yang mulanya turun 5 kg selama 2 bulan di fixaxi itu, setelah bales
dendam naeknya bukan 5kg lagi tp 10 kg (O’ooo… )
Disinilah saya bisa membayangkan, baru 2 bulan saja saya harus menahan
makanan dan setelah itu saya langsung seperti balas dendam (balas dendam apa
doyan yah, hwahaha..). Sangat bisa dibayangkan seperti apa rasanya selama lebih
dari 10 tahun Bapak berdiet sangat ketat…… Capek Diet dan Jenuh pasti…..
Selamat Jalan Bapakku, kami bangga padamu. Semoga Bapak senantiasa mendapatkan
tempat terbaik disisi-Nya sesuai amal ibadah Bapak selama ini dan mendapatkan
kehidupan yang lebih indah daripada kehidupan di dunia fana ini.
(Artikel
support untuk Pembuatan buku Biografi
Yudhastawa Mangoensarkoro yang diprakarsai oleh Kawan2 Bapak. Buku akan
diterbitkan Insya Allah dalam rangka Peringatan 1 tahun Berpulangnya Bapak
Yudhastawa Mangoensarkoro ke pangkuan-Nya, yg jatuh pada 24 Agustus 2008 nanti).
Rest In Peace :
1. Kakak Adityasta Putri, SE (Utik) – 28 Oktober 2006
2. Bapak Drs. Yudhastawa Mangoensarkoro
– 5 September 2007